Kamis, 03 Mei 2012

LP & SP Gangguan Marah


BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

A.       PENGERTIAN
Marah merupakan perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap kecemasan (kebutuhan yang tidak terpenuhi) yang dirasakan sebagai ancaman (Stuart & Sundeen, 1995). Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : “Marah adalah pengalaman emosi yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat”.
Perasaan marah normal bagi tiap individu, namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan marah dapat berfluktuasi sepanjang rentang adaptif dan maladaftif. Kekerasan adalah kekuatan fisik yang digunakan untuk menyerang atau merusak orang lain, tindakan ini sering mengakibatkan cedere fisik.(Ann Isaacs, 2004 ).
Jadi berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat kita simpulkan bahwa amuk merupakan suatu tindakan kekerasan yang dapat membayakan diri sendiri maupun orang lain yang ditandai dengan ekspresi kemarahan, melakukan tindakan yang berbahaya, mengeluarkan kata-kata ancaman dan melukai dari tahap yang paling ringan sampai berat/serius.

B.       ETIOLOGI
Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak, cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan prestise yang tidak terpenuhi. Penyebabnya antara lain :
1. Frustasi : sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
2. Hilangnya harga diri : pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
3. Kebutuhan akan status dan prestise : Manusia pada umumnya mempunyai keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.
Selain itu ada dua faktor yang menyebabkan marah, yaitu :

A. Faktor Predisposisi
1. Faktor Perkembangan
Hambatan perkembangan dan menganggu hubungan intrapersonal yang dapat meningkatkan stress dan ansietas yang dapat berakhir dengan ganguan persepsi, klien mungkin menekan perasaan sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.
2. Faktor Budaya
Budaya tertutup dan membatas secara diam dan control sosial yang tidak pasti terhadap prilaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah prilaku kekerasan diterima.
3.    Faktor Psikologis
Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian dapat timbul agresif atau amuk, masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan, yaitu ditolak atau dihina dan dianiaya.
4. Factor Biologis
Kerusakan system limbie, lobus frontal, lobus temporal dan ketidak keseimbangan membrane transmitter turut berespon terhadap terjadinya prilaku kekerasan  
B. Faktor Presipitasi
Dapat bersumbar dari klien, lingkungan atau interaksidari orang lain, kondisi klien seperti kelemahan fisik (penyakit fisik) keputusasaan, ketidak berdayaan, percaya diri yang kurang, dapat menjadi penyebab prilaku kekerasan. Faktor yang berkaitan dengan marah antara lain :
·      Menyerang atau menghindar (fight of flight)
·      Mengatakan dengan jelas (assertivines)
·      Memberontak (acting out)
·      Kekerasan atau amuk (violence)



C.      PROSES TERJADINYA MARAH
D.      RENTANG RESPON MARAH




Perbandingan Perilaku Pasif, Asertif, dan Agresif


E.       GEJALA / TANDA – TANDA MARAH (PERILAKU)

A.  Emosi
·   Tidak adekuat
·   Tidak aman
·   Rasa terganggu
·   Marah ( dendam )
·   Jengkel
B.  Intelektual
·   Mendominasi
·   Bawel
·   Sarkasme
·   Berdebat
·   Meremehkan
C.  Fisik
·   Muka merah
·   Pandangan tajam
·   Nafas pendek
·   Keringat
·   Sakit fisik
·   Penyalahgunaan zat
·   Tekanan darah meningkat
D.  Spiritual
·   Kemahakuasaan
·   Kebijakan / kebenaran diri
·   Keraguan
·   Tidak bermoral
·   Kebejatan
·   Kreativitas terlambat
E.   Sosial
·   Menarik diri
·   Pengasingan
·   Penolakan
·   Kekerasan
·   Ejekan
·   Humor
Kemarahan dinyatakan dalam berbagai bentuk, ada yang menimbulkan pengrusakan, tetapi ada juga yang hanya diam seribu bahasa. Gejala-gejala atau perubahan-perubahan yang timbul pada klien dalam keadaan marah diantaranya adalah:
1.        Perubahan fisiologik : Tekanan darah meningkat, denyut nadi dan pernapasan meningkat, pupil dilatasi, tonus otot meningkat, mual, frekuensi buang air besar meningkat, kadang-kadang konstipasi, refleks tendon tinggi.
2.        Perubahan emosional : Mudah tersinggung , tidak sabar, frustasi, ekspresi wajah nampak tegang, bila mengamuk kehilangan kontrol diri.
3.        Perubahan perilaku : Agresif pasif, menarik diri, bermusuhan, sinis, curiga, mengamuk, nada suara keras dan kasar.
F.   MEKANISME KOPING
Mekanisme koping adalah tiap upaya yang diarahkan pada penatalaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri (Stuart dan Sundeen, 1998 hal 33).
Kemarahan merupakan ekspresi dari rasa cemas yang timbul karena adanya ancaman. Beberapa mekanisme koping yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain (Maramis, 1998, hal 83) :
1.    Sublimasi : Menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
2.    Proyeksi : Menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba merayu, mencumbunya.
3.    Represi : Mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
4.    Reaksi formasi : Mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang berlawanan dan menggunakannya sebagai rintangan. Misalnya seorang yang tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut dengan kasar.
5.    Displacement : Melepaskan perasaan yang tertekan biasanya bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada mulanya yang membangkitkan emosi itu. Misalnya Timmy berusia 4 tahun marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang-perangan dengan temannya.

G.      PENATALAKSANAAN
Yang diberikan pada klien yang mengalami gangguan jiwa amuk ada 2 yaitu:
a.  Medis
1) Nozinan, yaitu sebagai pengontrol prilaku psikososia.
2) Halloperidol, yaitu mengontrol psikosis dan prilaku merusak diri.
3) Thrihexiphenidil, yaitu mengontro perilaku merusak diri dan menenangkan
     hiperaktivitas.
4) ECT (Elektro Convulsive Therapy), yaitu menenangkan klien bila mengarah pada
     keadaan amuk.
b. Penatalaksanaan keperawatan
1) Psikoterapeutik
2) Lingkungan terapieutik
3) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
4) Pendidikan kesehatan
                 



BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN MARAH

PENGKAJIAN
a.    Faktor predisposisi
·      Riwayat kelahiran dan tumbuh kembang (biologis).
·      Trauma karena aniaya fisik, seksual atau tindakan kriminal.
·      Tindakan antisosisal.
·      Penyakit yang pernah diderita.
·      Gangguan jiwa dimasa lalu.
·      Pengadaan sebelumnya.
1)      Aspek psikologis
Keluarga, pengasuh, lingkungan klien sangat mempengaruhi respon psikologis klien. Sikap atau keadaan yang dapat memepengaruhi jiwa amuk adalah: penolakan dan kekerasan dalam kehidupan klien. Pola asuh pada usia anak-anak yang tidak adekuat misalnya tidak ada kasih sayang , diwarnai kekerasan dalam keluarga merupakan resiko gangguan jiwa amuk.
2)   Aspek sosial budaya
Kemiskinan, konflik sosial budaya, kehidupan terisolasi, disertai strees yang menumpuk, kekerasan dan penolakan.
3)   Aspek spiritual
Klien merasa berkuasa dan dirinya benar, tidak bermoral.
b. Faktor fisik
1)  Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, diagnosa medis, pendidikan dan pekerjaan.
2) Keturunan
Adalah keluarga berpenyakit sama seperti klien atau gangguan jiwa lainya, jika ada sebutkan.
3)  Proses psikologis
a) Riwayat kesehatan masa lalu
- Apakah klien pernah sakit/ kecelakaan
- Apakah sakit tersebut mendadak/ menahun dan meninggalkan cacat.
b) Bagaimana makan minum klien
c) Istirahat tidur
d) Pola BAB / BAK
e) Latihan
f) Pemeriksaan fisik
- Fungsi sistem, seperti pernapasan, kardiovaskular, gastrointestinal, genitourineri, integumen dan paru udara.
- Penampilan fisik, berpakaian rapi/tidak rapi, bersih, postur tubuh (kaku, lemah, rileks, lemas).
c. Faktor emosional
Klien merasa tidak aman, merasa terganggu, dendam, jengkel.
d. Faktor mental
Cenderung mendominasi, cerewet, kasar, keremehan dan suka berdebat.
e. Latihan
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

MASALAH KEPERAWATAN
1. Perilaku kekerasan
2. Resiko mencederai
3. Gangguan harga diri : harga diri rendah


POHON MASALAH

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.    Resiko tinggi kekeasan: mencedarai diri sendiri/ orang lain dan lingkungan.
2.    Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah

Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1 : Resiko tinggi kekerasan: mencedarai diri sendiri/ orang lain dan lingkungan.
-  Tujuan umum: Klien tidak menciderai orang lain dan diri sendiri
-  Tujuan khusus:
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
2. Klien dapat mengenal amarahnya
3. Klien dapat mengendalikan emosinya
4. Klien dapat dukungan dari keluarganya untuk mengontrol amarahnya.
5. Klien dapat memanfaatkan obat sebaik mungkin.
- Intervensi :
1. Dirikansebuah kepercayaan dalam diri klien, seperti: jangan berusaha berdebat/ menentang amuknya, yakinkan klien bahwa dia dalam keadaan aman dan jangan tinggalkan klien sendirian.
Rasional: menghindari kecurigaan dan menimbulkan keterbukaan.
2.    Kaji tingkat kecemasan klien
Rasional: memperkirakan kemungkinan terjadi kekerasan.
3.    Kaji persepsi sensori klien yang dapat menimbulkan keinginan melakukan kekerasan.
Rasional: memahami isi pikir klien sehingga dapat mengetahui perubahan isi pikir klien.
4.    Jangan menerima/ mengkritik isi pikir klien yang salah.
Rasional: hal tersebut dapat menimbulkan konflik yang dapat menghambat proses interaksi.
5.    Pertahankan sikap yang tenang terhadap klien.
Rasional: ansietas perawat memancing klien lebih agitasi.
6.    Ajarkan klien latihan relaksasi.
Rasional: membantu mengatasi meningkatnya stimulus.
7.    Kolaborasi dengan tim medis dalam pembrian obat-obatan tranquilizer dan pantau keevektifitasannya dan efek sampingnya.
Rasional: sebagai pengontrol prilaku psikosis dan penenang hiperaktivitas.

Diagnosa 2 : Perilaku kekerasan berhubungan dengan harga diri rendah
-       Tujuan umum : klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain
-       Tujuan khusus :
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki.
3. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
4. Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang dimiliki.
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada.

- Intervensi :
1. Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi terapeutik.
Rasional : hubungan saling percaya memungkinkan klien terbuka pada perawat dan sebagai dasar untuk intervensi selanjutnya.
2. Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien.
Rasional : mengidentifikasi hal-hal positif yang masih dimiliki klien.
3. Setiap bertemu klien dihindarkan dari memberi penilaian negatif.
Rasional : pemberian penilaian negatif dapat menurunkan semangat klien dalam hidupnya.
4. Utamakan memberi pujian yang realistik pada kemampuan dan aspek positif klien.
Rasional : meningkatkan harga diri klien.
5. Minta klien untuk memilih satu kegiatan yang mau dilakukan di rumah sakit.
Rasional : agar klien dapat melakukan kegiatan yang realistis sesuai kemampuan yang dimiliki.
6. Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan.
Rasional : tujuan utama dalam penghayatan pasien adalah membuatnya menggunakan respon koping mal adaptif dengan yang lebih adaptif.
7. Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga diri rendah.
Rasional : meningkatkan pengetahuan keluarg a dalam merawat klien secara bersama.
8. Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
Rasional : meningkatkan peran serta keluarga dalam membantu klien meningkatkan harga diri rendah.

EVALUASI
a. Pada klien
1) Klien tidak menciderai diri dan orang lain.
2) Klien mampu mempertahankan hubungan akrab dengan orang lain.
3) Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang lain
b. Pada keluarga
1) Keluarga dapat memberi support sistem yang positif untuk menyembuhkan klien.
2) Keluarga mampu merawat klien
3) Keluarga mampu mengetahui kegiatan apa yang perlu klien lakukan dirumah (buat jadwal).
4) Keluarga mengetahui cara pemberian obat dengan benar dan waktu yang tepat


STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
DENGAN KLIEN GANGGUAN MARAH

Masalah : Gangguan Marah
Pertemuan : ke 1 (satu)

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien datang ke rumah sakit diantar keluarga karena dirumah sering marah-marah dan ingin memukul seseorang yang menasehatinya.
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.
3. Tujuan khusus
TUK 1 : Membina hubungan saling percaya
                     
B. Proses Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi, nama saya ..., panggil saya ....., saya perawat di sini. Namanya siapa, senang dipanggil apa?”
b. Evaluasi/validasi
“Ada apa dirumah sampai dibawa kemari?”
c. Kontrak
• Topik
“Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang hal-hal yang menyebabkan Mas/mbak marah?”
• Tempat
   “Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau di ruang tunggu  
    saja?”
• Waktu
  “Mau berapa lama? Bagaimana kalau 10 menit saja?”
2. Kerja
• “Apa yang membuat Mas/mbak marah-marah?”
• “Apakah ada yang membuat Mas/mbak kesal?”
• “Apakah sebelumnya Mas/mbak pernah marah?”
• “Apa penyebabnya? Apakah sama dengan yang sekarang?”
• “Baiklah, jadi ada yang menyebabkan Mas/mbak marah-marah ya!”
3. Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan Mas/mbak setelah kita bercakap-cakap?”
b. Evaluasi Objektif
“Coba sebutkan 3 penyebab Mas/mbak marah-marah, bagus sekali”
c. Rencana tindak lanjut
“Baiklah, waktu kita sudah habis, nanti coba Mas/mbak ingat lagi, penyebab marah yang belum kita bicarakan”
d. Kontrak
Topik
   “Nanti kita akan bicarakan perasaan Mas/mbak pada saat marah dan cara
    marah yang biasa Mas/mbak lakukan
Tempat
   “Mau dimana kita bicara? Bagaimana kalau disini?”
Waktu
   “Kira-kira 30 menit lagi ya, sampai nanti”


Masalah : Perilaku Kekerasan
Pertemuan : ke 2 (dua)

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi
Klien dapat menyebutkan penyebab marah
2. Diagnosa Keperawatan
Risiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.
3. Tujuan khusus
TUK 2 : Klien dapat mengenal amarahnya
B. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
1. Orientasi
a. Salam terapeutik
“Selamat pagi Mas/mbak ”
b. Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan Mas/mbak saat ini ?”
“Apakah Mas/mbak masih sering marah ?”
c. Kontrak
• Topik
“Baiklah kita akan membicarakan perasaan Mas/mbak saat sedang marah”
• Tempat
“Mau dimana? Bagaimana kalau di ruang tunggu saja?
• Waktu
“Mau berapa lama? Bagaimana kalau 15 menit saja?”
2. Kerja
• “Mas/mbak pada saat dimarahi oleh ibu apa yang Mas/mbak rasakan?”
• “Apakah ada perasaan kesal, tegang, mengepalkan tangan, mondar-mandir?”
• “Lalu apa yang biasanya Mas/mbak lakukan?”
• “Apakah sampai memukul? Atau Cuma marah-marah saja?”
• “Mas/mbak , coba praktekkan cara marah pada ....., anggap perawat (saya) adalah orang tua yang membuat Mas/mbak jengkel,(beri apresiasi wah bagus sekali”)
• Nah, bagaimana perasaan Mas/mbak setelah memukul meja?”
• Apakah masalahnya selesai?”
• Apa akibat perilaku Mas/mbak ”?
• “Betul, tangan jadi sakit, meja bisa rusak, masalah tidak selesai dan akhirnya
dibawa kerumah sakit”
• “Bagaimana Mas/mbak, maukah belajar cara mengungkapkan marah yang benar dan sehat”
• Baiklah waktu kita sudah habis”
3. Terminasi
a. Evaluasi Subjektif
“Bagaimana perasaan Mas/mbak setelah kita bercakap-cakap?”
b. Evaluasi Objektif
• “Apa saja tadi yang kita bicarakan?”
• “Benar, perasaan saat marah, apa saja tadi?ya betul, lagi, OK!”
• “Lalu cara marah yang lama, apa saja tadi? Ya betul, lagi, OK!”
• “Dan akibat marah, apa saja? Ya betul, sampai dibawa kerumah sakit”
c. Rencana tindak lanjut
“Baiklah, sudah banyak yang kita bicarakan, nanti coba ingat-ingat lagi perasaan Mas mbak sewaktu marah, dan cara Mas/mbak marah serta akibat yang terjadi, kalau di rumah sakit ada yang membuat Mas/mbak marah beritahu saya ya”
d. Kontrak
• Waktu
“Besok satu bulan lagi kita ketemu ya”
• Tempat
“Bagaimana kalau disini lagi?”
• Topik
“Besok kita mulai latihan cara marah yang baik dan sehat, sampai besok ya!”



DAFTAR PUSTAKA

Issac Ann. 2004. Keperawatan dan Kesehatan Jiwa Psikiatrik Edisi 3. Jakarta : EGC.
Keliat, Budi Anna. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Stuart & Sunden. 2001. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jkarta :  EGC.
http://kep jiwa/askep perilaku kekerasan.html
http://kep jiwa/askep marah.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar